Scroll untuk baca berita
News

Kisah Soekarno Menikahi Inggit Garnasih, Ibu Kosnya Saat Sekolah di Bandung

×

Kisah Soekarno Menikahi Inggit Garnasih, Ibu Kosnya Saat Sekolah di Bandung

Sebarkan artikel ini

 

Kisah Soekarno Menikahi Inggit Garnasih, Ibu Kosnya Saat Sekolah di Bandung
Inggit Garnasih dan Soekarno/Perpusnas

Skroll untuk Melanjutkan
Advertising

Jakarta, DOMAINRAKYAT.com – Sebelum menikahi Inggit, Soekarno menikah dengan putri Tjokroaminoto, Siti Utari, saat usianya belum genap 21 tahun.

Soekarno menikahi Utari yang ketika itu usianya belum genap 16 tahun setelah dibujuk oleh Said Tjokroaminoto, paman Utari.

Kemudian, setelah tamat dari Hoogere Burger School (HBS) pada 1920, Soekarno melanjutkan studi ke Technische Hoogeschool di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil tanpa mengajak serta Utari. Kenyataannya, pernikahan mereka memang lebih terlihat sebagai hubungan kakak beradik.

Saat di Bandung, Soekarno tinggal di rumah Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Tjokroaminoto, sekaligus suami Inggit ketika itu.

Rasa cinta Soekarno terhadap Inggit Garnasih, istri Haji Sanusi yang notebene-nya adalah ibu kosnya tumbuh seiring waktu.

Jaliinan hubungan mereka semakin serius sehingga Soekarno dan Inggit akhirnya berterus terang kepada Haji Sanusi dan Tjokroaminoto, bahwa mereka bermaksud untuk menikah.

Menerima pernyataan itu, Haji Sanusi kemudian menceraikan Inggit dan Soekarno menceraikan Utari seizin Tjokroaminoto. Akhirnya, Utari menjadi janda di usia yang sangat muda dalam keadaan masih perawan,

Soekarno kemudian menikahi Inggit pada 1923. Sejak itu pula Inggit menanggung biaya studi Kusno, begitu panggilan Inggit kepada Soekarno. Soekarno dinyatakan lulus ujian insinyur pada 25 Mei 1926.

Inggit Garnasih dan Soekarno/Perpusnas

Dalam Dies Natalis ke-6 Technische Hoogeschool pada 3 Juli 1926, Soekarno diwisuda bersama 18 insinyur lainnya.

Pada saat itu Profesor Jacob Clay selaku ketua fakultas mengatakan, bahwa peristiwa itu penting karena diantaranya ada orang jawa. Yang dimaksud oleh sang profesor adalah Soekarno, Anwari, dan Soetedjo.

“Terutama penting peristiwa itu bagi kita karena ada di antaranya tiga orang insinyur orang Jawa,” tuturnya.

Setamat kuliah, Soekarno semakin aktif di dunia pergerakan. Dalam hal ini Inggit turut berperan mendukung perjuangan suaminya.

Saat Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menghukum Soekarno di Penjara Sukamiskin karena kegiatan politik, Inggit setia menemani dan menunggu hingga masa hukuman itu habis. Inggit yang waktu itu berjualan rokok buatannya sendiri adalah satu-satunya orang yang diizinkan menjenguk Soekarno.

Inggit Garnasih merupakan sosok pahlawan yang sebenarnya memiliki jasa yang sangat besar untuk kemerdekaan Indonesia, bagaimana tidak, Inggit Garnasih lah yang selalu setia mendampingi Soekarno dimasa-masa sulitnya, akan tetapi namanya tak pernah disebut dalam buku pelajaran. bagi pembaca yang belum mengenal sosok Inggit Garnasih, beliau adalah istri kedua Soekarno yang membiayai perjuangan Soekarno mulai dari biaya kuliahnya hingga aktivitas politiknya. Selama ini nama Inggit Garnasih masih asing di telinga masyarakat Indonesia bahkan yang lebih menprihatinkan namanya masih asing di tanah kelahirannya yaitu Kamasan.

Bahkan satu-satunya permohonannya kepada negara, yakni tempat untuk memakamkan jasadnya, tetapi ditolak.

Walaupun jasa Inggit besar, sampai hari ini, 38 tahun setelah ia meninggal, ia tak kunjung diberikan gelar pahlawan nasional.

Ikuti berita Domainrakyat.com melalui Google News, klik di sini

 

    

Lihat berita dan Artikel Domainrakyat.com di Google News dan WhatsApp Channel