Scroll untuk baca berita
News

Singgung Presiden Harus Orang Indonesia Asli, Syahganda Nainggolan: Saya Sudah Dikasih Tahu, yang Sekarang Asli atau Tidak

×

Singgung Presiden Harus Orang Indonesia Asli, Syahganda Nainggolan: Saya Sudah Dikasih Tahu, yang Sekarang Asli atau Tidak

Sebarkan artikel ini

 

Domainrakyat.com — Direktur Eksekutif Sabang-Merauke Circle, Syahganda Nainggolan membuat sebuah pengakuan yang menarik di acara diskusi publik yang diselenggarakan oleh Komite Peduli Indonesia (KPI) dan DPD RI.

Skroll untuk Melanjutkan
Advertising

Diskusi itu berjudul “Koalisi Rakyat untuk Poros Perubahan” dan diselenggarakan di Ballroom Masjid Agung Trans Studio, Bandung, Jawa Barat maupun melalui virtual, Minggu (26/6).

Saat diskusi berlangsung,  Syahganda mengaku telah mendapatkan bocoran dari intelijen soal apakah Presiden Joko Widodo benar-benar asli pribumi atau tidak.

Awalnya, Syahganda menjelaskan, poros perubahan bertujuan agar negeri ini dikembalikan kepada konstitusi sesuai dengan tujuan Soekarno-Hatta memerdekakan Republik Indonesia, yaitu untuk kemakmuran dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Namun, Syahganda merasa heran, saat ini justru banyak oligarki yang menguasai harta dan tanah di Indonesia. Padahal, Indonesia bukan seperti Amerika yang sudah ditinggalkan oleh pribuminya.

“Di Indonesia ini masih ada keturunan raja-raja seperti Jumhur ini. Kita banyak yang asli Indonesia, jadi Indonesia asli itu ada. Makanya Soekarno dan Hatta mengatakan Pasal 6 UUD 1945 itu harus presidennya orang Indonesia asli pribumi. Yang sekarang asli enggak? Yang bisa jawab dunia intelijen nih,” ujar Syahganda.

Syahganda mengaku sudah pernah mendapatkan bocoran soal ini dari Sutiyoso yang merupakan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

“Saya sih sudah pernah dikasih tahu sama Sutiyoso. Apa dia benar pribumi, apa enggak. Biar Sutiyoso saja lah yang harus mengungkapkan, jangan saya, karena saya bukan intelijen. Tapi Sutiyoso sudah kasih tahu saya, apakah yang sekarang asli (pribumi) atau tidak,” ungkap Syahganda.

Syahganda lantas membandingkan kondisi di Indonesia dengan di Malaysia. Di mana, di Malaysia ketika pribumi berkuasa, harga minyak goreng bisa lebih murah dibanding di Indonesia.

“Di Malaysia ketika pribumi Malaysia berkuasa, minyak goreng sampai sekarang harganya cuma 7.600 per liter. Sementara pengkhianat bangsa ini membuat minyak goreng harganya puluhan ribu per liter. Yang sudah diungkapkan sendiri oleh menterinya, bahwa mereka itu ada mafia minyak goreng, yang mungkin menterinya juga bagian daripada mafia minyak goreng itu,” pungkasnya.

Ikuti berita Domainrakyat.com melalui Google News, klik di sini

    

Lihat berita dan Artikel Domainrakyat.com di Google News dan WhatsApp Channel